Melakukan perjalanan panjang, baik itu untuk urusan pekerjaan maupun liburan, seringkali menjadi tantangan tersendiri bagi tubuh, terutama bagi sistem pencernaan. Perubahan rutinitas, waktu makan yang tidak teratur, hingga kurangnya aktivitas fisik selama di kendaraan sering kali memicu masalah seperti kembung, sembelit, atau rasa tidak nyaman di perut. Menjaga perut tetap tenang selama di perjalanan sebenarnya bukan hal yang mustahil jika kita memahami ritme tubuh dan memilih asupan yang tepat. Strategi sederhana namun konsisten dapat menjadi kunci agar perjalanan Anda tetap menyenangkan tanpa gangguan kesehatan dari dalam.
Langkah pertama yang paling krusial adalah menjaga hidrasi tubuh secara optimal. Banyak orang cenderung membatasi minum saat menempuh perjalanan jauh karena enggan terlalu sering pergi ke toilet. Padahal, kekurangan cairan akan membuat kerja usus menjadi lambat dan feses menjadi keras, yang pada akhirnya memicu sembelit. Air putih adalah pilihan terbaik dibandingkan minuman bersoda atau kopi yang justru bersifat diuretik. Pastikan Anda menyesap air secara berkala sepanjang perjalanan agar kelembapan saluran cerna tetap terjaga, sehingga proses pembuangan sisa makanan tetap berjalan lancar meski Anda hanya duduk diam dalam waktu yang lama.
Memilih Camilan Serat dan Menghindari Makanan Pemicu Gas
Selain hidrasi, pemilihan makanan selama di jalan memegang peranan vital. Godaan untuk mengonsumsi makanan cepat saji di rest area memang besar, namun makanan berminyak dan tinggi lemak jenuh justru akan memperlambat pengosongan lambung. Sebagai gantinya, siapkanlah camilan mandiri yang kaya akan serat namun ringan bagi perut. Buah-buahan seperti apel atau pisang sangat disarankan karena mengandung serat yang mudah dicerna. Hindari mengonsumsi sayuran yang menghasilkan gas tinggi seperti kol atau brokoli sesaat sebelum berangkat, karena tekanan udara di kabin pesawat atau posisi duduk yang statis di mobil dapat memperparah rasa kembung.
Porsi makan juga perlu diperhatikan dengan saksama agar tidak membebani sistem kerja lambung. Alih-alih makan dalam porsi besar sekali duduk, cobalah untuk makan dalam porsi kecil namun lebih sering. Hal ini bertujuan untuk menjaga metabolisme tetap stabil dan mencegah asam lambung naik. Mengunyah makanan dengan perlahan dan hingga halus juga sangat membantu meringankan beban kerja enzim pencernaan. Ketika kita terburu-buru makan saat transit, udara cenderung ikut tertelan, yang pada akhirnya akan menumpuk menjadi gas di dalam perut dan menyebabkan rasa begah yang sangat mengganggu kenyamanan.
Tetap Bergerak Aktif dan Menjaga Kebersihan Tangan
Pencernaan yang sehat juga sangat dipengaruhi oleh sirkulasi darah dan gerakan tubuh secara keseluruhan. Duduk terlalu lama akan membuat otot-otot di sekitar perut menjadi kaku dan gerakan peristaltik usus melambat. Jika Anda menggunakan kendaraan pribadi, sempatkanlah untuk berhenti setiap dua atau tiga jam sekali hanya untuk sekadar berjalan kaki ringan atau melakukan peregangan selama lima menit. Gerakan-gerakan sederhana ini cukup untuk merangsang usus agar tetap aktif mengolah makanan. Jika berada di pesawat atau kereta, Anda tetap bisa melakukan kontraksi otot perut ringan sambil duduk untuk memicu pergerakan di dalam sistem pencernaan Anda.
Terakhir, aspek kebersihan tidak boleh luput dari perhatian karena perjalanan jauh sering kali membuat kita terpapar banyak kuman di tempat umum. Selalu cuci tangan atau gunakan pembersih tangan berbasis alkohol sebelum menyentuh makanan apa pun. Infeksi bakteri ringan dari tangan yang kotor bisa dengan mudah menyebabkan diare atau sakit perut selama perjalanan. Dengan mengombinasikan pola makan yang cerdas, hidrasi yang cukup, dan menjaga kebersihan diri, sistem pencernaan Anda akan tetap kuat menghadapi perjalanan sepanjang apa pun. Tubuh yang bugar di perjalanan adalah modal utama untuk menikmati tujuan Anda dengan maksimal.





